KONDISI UMUM
Letak, Luas dan Lokasi
Secara geografis, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) terletak pada koordinat 9°29’–10°11’ LS dan 119°26’–120°19’ BT . Kawasan ini merupakan gabungan dari dua wilayah utama, yaitu Manupeu Tanah Daru dengan luas ±87.984,09 ha dan Laiwangi Wanggameti seluas ±47.014,00 ha, sehingga total luas kawasan mencapai sekitar ±134.998,09 ha . Secara administratif, TN Matalawa berada di tiga kabupaten di Pulau Sumba, yaitu Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur, serta mencakup puluhan desa di sekitar kawasan, termasuk beberapa desa enclave .
Sejarah Kawasan
Sejarah kawasan TN Matalawa telah dimulai sejak masa kolonial Belanda, khususnya pada kawasan Laiwangi Wanggameti yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak tahun 1930-an . Pada tahun 1983, sebagian kawasan hutan di Pulau Sumba ditunjuk sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah. Selanjutnya, melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 576/Kpts-II/1998, kawasan ini resmi ditetapkan menjadi dua taman nasional, yaitu Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Pada tahun 2016, kedua unit pengelolaan tersebut digabung menjadi satu kesatuan organisasi Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa).
Kondisi Fisik
Topografi
Kondisi topografi TN Matalawa sangat bervariasi, mulai dari wilayah pesisir (0 mdpl), perbukitan, hingga pegunungan dengan ketinggian mencapai ±1.224 mdpl di Puncak Wanggameti . Sebagian besar kawasan didominasi oleh lereng curam hingga sangat curam, khususnya di wilayah Laiwangi Wanggameti.
Hidrologi
TN Matalawa merupakan kawasan penting sebagai daerah tangkapan air (catchment area) di Pulau Sumba. Kawasan ini menjadi hulu bagi banyak daerah aliran sungai (DAS) besar seperti DAS Kambaniru, DAS Wanokaka, dan DAS Lailunggi yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat .
Tanah dan Geologi
Secara geologi, kawasan TN Matalawa tersusun atas berbagai formasi seperti batuan sedimen, batuan vulkanik, serta endapan aluvial. Jenis tanah yang dominan antara lain grumusol, mediteran, latosol, serta tanah berbasis vulkanik dan sedimen.
Kelerengan
Sebagian besar kawasan memiliki tingkat kelerengan yang bervariasi dari landai hingga sangat curam (≥45%), terutama pada kawasan pegunungan Laiwangi Wanggameti.
Iklim dan Curah Hujan
Pulau Sumba memiliki tipe iklim musiman dengan musim kering yang panjang (Mei–November). Curah hujan di kawasan TN Matalawa berkisar antara 500–2000 mm/tahun di Manupeu Tanah Daru dan 100–1500 mm/tahun di Laiwangi Wanggameti . Kondisi ini membentuk karakter ekosistem hutan tropis kering yang khas.
Potensi Hayati
Flora
Kawasan TN Matalawa memiliki sekitar 375 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi, termasuk berbagai jenis tumbuhan obat dan epifit seperti anggrek . Vegetasi didominasi oleh hutan tropis kering, savana, hingga hutan semi hijau dengan jenis-jenis khas seperti Alstonia, Ficus, Syzygium, serta tanaman bernilai konservasi seperti cendana dan gaharu.
Fauna
Keanekaragaman fauna didominasi oleh burung dengan total sekitar 159 jenis, termasuk lebih dari 10 spesies endemik Sumba seperti Julang Sumba dan Kakatua Sumba yang menjadi satwa prioritas konservasi. Selain itu terdapat berbagai mamalia seperti rusa timor, babi hutan, serta beragam reptil, amfibi, dan serangga endemik.
Potensi Non Hayati
Selain keanekaragaman hayati, TN Matalawa memiliki potensi non hayati berupa jasa lingkungan seperti sumber air, potensi wisata alam (air terjun, gua, savana), serta fungsi sebagai penyimpan karbon dan pengatur iklim lokal.
Ekosistem
Kawasan TN Matalawa memiliki tipe ekosistem yang beragam, mulai dari ekosistem pantai, mangrove, savana, hingga hutan tropis kering dan semi evergreen . Keunikan ini menjadikan Matalawa sebagai representasi ekosistem khas wilayah Nusa Tenggara yang berbeda dengan hutan hujan tropis basah di wilayah Indonesia lainnya.
Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Kawasan TN Matalawa dikelilingi oleh puluhan desa dengan karakteristik sosial budaya khas Sumba. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, peternakan, serta pemanfaatan sumber daya alam secara tradisional. Interaksi antara masyarakat dengan kawasan hutan menjadikan pendekatan pengelolaan berbasis kolaboratif sangat penting dalam menjaga kelestarian kawasan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
ALAMAT
Balai TN Matalawa
Jl. H. Adam Malik No.123, Kambajawa, Kec. Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Tim. 87112, Indonesia
